Indonesia: Crime
Headlines News :

Latest Post

Tampilkan postingan dengan label Crime. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Crime. Tampilkan semua postingan

Anak Kandung Dibunuh, Istrinyapun Ingin Dihabisi

Written By Dre@ming Post on Sabtu, 27 Februari 2016 | 08.52

Petrus Bakus
Membawa Parang Berlumuran Darah, Oknum Polisi Pembunuh Anak Kandung Juga Ingin Menghabisi Istrinya

PONTIANAK- Kapolda Kalbar, Brigjen Arief Sulistyanto mengatakan, sejak seminggu ini Brigadir Petrus Bakus sering marah-marah sendiri di rumah.

Informasi ini berdasarkan keterangan istrinya, yang menyatakan seperti ada makhluk halus yang mendatangi suaminya.

Kepada istrinya, Petrus juga bercerita sering mendapat bisikan.

"Pada saat kecil umur 4 tahun, juga sering mengalami kejadian serupa dan badan terasa kedinginan," kata Kapolda saat dihubungi, Jumat (26/2/2016).

Kapolda mengatakan, pembunuhan terjadi pada saat istrinya sedang tidur.

"Kemudian istrinya terbangun. Suaminya mendatangi istrinya dengan membawa parang yang sudah berlumuran darah dengan mengatakan akan membunuh istrinya," ujar Kapolda.

Kapolda mengatakan, ketika itu istrinya minta waktu untuk menengok anaknya, dan diberitahu oleh suaminya kalau anak-anaknya sudah habis.

Kemudian istrinya meminta diambilkan minum sebelum dibunuh.

"Pada saat suaminya mengambilkan air minum maka istrinya melarikan diri dan meminta tolong warga asrama," jelasnya.

Sebelumnya diberitakan, Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat, khusus jajaran Kepolisian digegerkan ulah oknum anggota Kepolisian Polres Melawi, yang diduga telah membunuh dua anak kandungnya.

Peristiwa nahas ini diperkirakan terjadi Jumat (26/2/2016) sekitar pukul 00.40 WIB dini hari.

Hah, Oknum Polisi Pembunuh Anak Kandung Mengaku Tidak Menyesali Perbuatannya!

PONTIANAK - Kapolda Kalbar, Brigjen Arief Sulistyanto mengatakan terkait perkembangan penanganan perkara mutilasi, saat ini dokter forensik sedang melakukan pemeriksaan mayat korban.

Sementara Tim Penyidik Polda dan Polres melakukan olah TKP dan melakukan pemeriksaan saksi-saksi.

"Tersangka ditahan di Polres Melawi. Secara fisik sehat tetapi kondisi bicaranya seperti orang meracau, tidak mengenal Kapolres dan Kasatnya," ujar Kapolda yang tengah berada di Melawi.

Arief menyatakan saat ditanya, tersangka mengatakan bahwa ia melakukan pembunuhan anak-anaknya dengan sadar dan tidak menyesal karena ada bisikan yang memerintahkan, untuk persembahan kepada Tuhan.

Tersangka, kata Kapolda juga tidak menyesal karena anaknya sudah kembali ke surga dan menganggap anaknya sudah menyatu dengan dirinya.

"Ia mengatakan bahwa apa yang terjadi pada dirinya adalah sudah kehendak Tuhan sejak ia lahir dari rahim ibunya. Bahwa bisikan tersebut diterima sejak hari Jumat seminggu sebelumnya," jelas Arief.

Sebelumnya diberitakan, Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat, khusus jajaran Kepolisian digegerkan ulah oknum anggota Kepolisian Polres Melawi, yang diduga telah membunuh dan memutilasi dua anak kandungnya.

Peristiwa nahas ini terjadi di Asrama Polres Melawi, Gg Darul Falah, Desa Pal, Kecamatan Nanga Pinoh, diperkirakan terjadi Jumat (26/2/2016) sekitar pukul 00.40 WIB dini hari.

Kedua korban itu anak laki-laki bernama Fabian usia 4 tahun dan anak perempuan bernama Amora usia 3 tahun.

Pelaku pembunuhan, Brigadir Petrus Bakus (PB) merupakan ayah kandung kedua korban.






sumber : tribun

Jet Bus Pengangkut Enam Terduga Teroris Dikawal Lima Mobil

Written By Dre@ming Post on Senin, 22 Februari 2016 | 08.41

Pemindahan enam terduga teroris ke Jakarta di Mako Brimob Polda Jatim Detasemen B Pelopor Ampeldento, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang, Minggu (21/2/2016).
MALANG - Pengawalan ketat dilakukan oleh pihak kepolisian ketika memindahkan enam orang yang diduga terlibat aksi terorisme ke Jakarta.

Dari pantauan, keenam orang itu dinaikkan jet bus.

Semua mata mereka ditutup lakban.

Mini bus itu dikawal oleh sebuah mobil Patwal polisi.

Di belakang jet bus, ada lima mobil beriringan.

Keenam orang itu mendapat pengawalan dari 30 orang anggota Satuan Brimob Polda Jatim Detasemen B Pelopor.

Beberapa anggota Tim Detasemen Khusus 88 Antiteror (Densus 88) juga ikut dalam rombongan itu.

"Untuk personel Brimob ada 30 orang yang mengawal," ujar Kepala Detasemen B Pelopor AKBP Sunadi usai pemberangkatan rombongan, Minggu (22/2/2016).

Mobil jet-bus itu parkir di depan ruang tamu Brimob Detasemen B yang berada di Ampeldento, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang.

Sekitar pukul 12.50 wib, polisi membawa keluar enam orang secara beriringan.

Keenam orang itu memakai baju tahanan berwarna oranye.

Kaki dan tangan mereka diborgol.

Mata mereka ditutup memakai lakban.

Sekitar pukul 13.00 wib, rombongan meninggalkan markas Ampeldento itu.

Rombongan akan menempuh perjalanan darat hingga ke Mako Brimob di Kelapa Dua Jakarta.










sumber : tribun

Usai Menikah Mirna Takut Ketemu Jessica

Written By Dre@ming Post on Sabtu, 06 Februari 2016 | 10.51

Jumat, 5 Februari 2016 16:52 WIB Jessica Dikunjungi Dua Biksu Beri Siraman Rohani. Biksu Sapta usai memberi siraman rohani kepada Jessica Kumala Wongso di tahanan polda Metro jaya, Jumat (5/2/2016) (Pojok Kiri Atas). Darmawan Salihin (Pojok kanan Atas). Jessica Kumala Wongso (Bawah)
Saksi Ahli Sebut Jessica Cerdas

JAKARTA – Guru Besar Psikologi Universitas Indonesia (UI), Sarlito Wirawan Sarwono yang diundang penyidik sebagai saksi ahli dalam kasus pembunuhan Wayan Mirna Solihin.

Hasil tes psikologi yang dilakukan Sarwono kepada tersangka, Jessica Kumala Wongso diketahui perempuan 27 tahun itu tidak memiliki kelainan jiwa. Bahkan, kepribadian Jessica Kumala Wongso juga normal dan baik-baik saja.

"Hasilnya dia tidak ada kelainan apapun. Jadi, Jessica itu seorang yang sehat. Secara intelegensi cerdas, secara kepribadian sehat tidak bermasalah," papar Sarwono, Jumat (5/2/2016).

Menurutnya, secara keilmuwan analisis yang menyebutkan jika Jessica Kumala Wongso berkepribadian ganda adalah salah.

Sebelumnya ayah Mirna, Edi Darmawan Salihin menilai jika Jessica Kumala Wongso yang menjadi tersangka pembunuh anakanya memiliki kepribadian ganda.

"‎‎Sangat normal, salah itu," kata Sarlito.

Sarlito enggan menyebutkan rinci hasil pembacaannya terhadap kondisi psikologi Jessica Kumala Wongso.

Namun menurutnya ‎banyak kemiripan antara dugaan yang muncul selama ini dengan keputusan polisi.

"Bahwa dugaan-dugaan kalian itu dengan keputusan-keputusan polisi itu banyak miripnyalah gitu. Itu saja barangkali," kata Sarlito.

Ayah Wayan Mirna Klaim Punya Data Vital dari Australia

Edi Darmawan Salihin mengaku kedatangannya untuk mencari tahu sejauh mana kelanjutan pengungkapan kasus yang menyebabkan anaknya Wayan Mirna Salihin (27), tewas.

Selain itu kedatangnya juga untuk membantu polisi dalam mencari data-data yang mendukung pembuktian.

‎"Saya ke sini untuk meminta keterangan sampai dimana (kelanjutan kasus) , apa yang saya bisa bantu untuk mencari data-data," ujarnya di Ditreskrimum Polda Metro Jaya, Jumat (5/2/2016).

Pasalnya menurut Darmawan dirinya memiliki sejumlah data yang tidak dimiliki kepolisian.

Data tersebut ia cari sendiri, termasuk ke Australia.‎

Beberapa data yang didapat dari Australi bahkan menurut Darmawan sangat penting.

"Itu data dari Australia sangat vital," katanya..

Sementara itu Direktur Kriminal Umum Polda Metro, Kombes pol Krishna Murti mengatakan apabila ada korelasinya dengan pemeriksaan yang dilakukan, data yang dimiliki kepolisan dan yang dimiliki keluarga Mirna, akan disinkronkan.

"Nanti sinkronkan saja," ujarnya.

Namun Krishna enggan menjelaskan apakah data yang yang tidak dimiliki kepolisian termasuk pesan instan WhatsApp dari Jessica terkait soal ciuman.

"Kalo materi saya engga bisa bicara," katanya.

Selama Satu Setengah Jam, Jessica Terima Siraman Rohani

JAKARTA – Selama satu setengah jam Jessica Kumala Wongso, tersangka kasus pembunuhan Wayan Mirna Solihin mendapatkan siraman rohani dari dua biksu yang menyambanginya di Tahanan Polda Metro Jaya, Jumat (5/2/2016).

Sesuai Kartu Tanda Penduduknya, Jessica memeluk Agama Budha. Gadis 27 tahun itu telah lima hari ditahan di Polda Metro.

Dua biksu yang memberikan siraman rohani pada Jessica didatangkan dari kawasan Mangga Besar, Jakarta.

Usai memberikan siraman rohani, kedua biksu itu enggan berkomentar terkait kondisi Jessica di dalam penjara.

"Hanya siraman rohani saja yang kita berikan, saya tidak tahu," ujar salah satu Biksu bernama Sapta, sambil menghindari awak media.

Direktur Perawatan Tahanan dan Titipan Polda Metro, AKBP Barnabas mengatakan kedatangan dua biksu tersebut untuk memberikan siraman Rohani pada sejumlah tahanan.

"Kalau kita untuk perawat kerohanian dia aja. Kalau yang agama Islam kan ada jumataan, ada pengajian, ceramah agama. Kalau Budha kan minoritas sekali, hampir nggak ada. Makanya kita usahakan mendatangkan biksu," ungkap Barnabas.

Menurut Barnabas kegiatan rohani dalam tahanan termasuk Jessica berlangsung selama satu setengah jam.

Siraman Rohani yang berlangsung dari pukul 13.00 hingga pukul 15.00 WIB tersebut merupakan kegitan rutin.

"Rutin untuk para tahanan, hanya saja tidak selalu hari Jumat, tergantung kesediaan biksunya saja," ucapnya.

Polisi Belum Temukan Bukti Jessica Bubuhkan Sianida ke Cangkir Mirna

JAKARTA - Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Komisaris Besar (Kombes), Krishna Murti mengatakan pihaknya belum menemukan bukti bahwa tersangka Jessica Kumala Wongso membubuhkan sianida ke cangkir Wayan Mirna Solihin dalam kasus pembunuhan di Kafe Oliver itu.

Ia mengatakan kasus tersebut terbilang simpel. Pihaknya hanya perlu mencari tahu siapa penaruh sianida di dalam kopi yang diminum Mirna.

Namun, berdasarkan informasi polisi sama sekali tak memiliki bukti sianida maupun dokumen apapun yang terkait sianida.

Akibatnya polisi tak bisa menempatkan posisi Jessica sebagai pelaku yang memegang sianida dan memasukkannya ke kopi Mirna.

Polisi hanya memiliki bukti indikasi dari rekaman CCTV bahwa hanya Jessica orang yang paling mungkin memasukkan sianida tersebut.

Tapi di rekaman CCTV itu sama sekali tak terlihat Jessica memasukkan sianida tersebut.

Sementara itu, Kriminolog Adrianus Meliala menyebut bukti materiil soal sianida amatlah penting dan itulah yang akan menjadi keyakinan hakim di persidangan.

Apabila itu tak dimiliki, maka polisi tak akan memukul telak Jessica di persidangan.

"Jessica masih bisa tertawa nantinya, sebab hakim tak akan berani memutuskan hukuman maksimal karena kurang lengkapnya bukti materiil polisi terkait sianida," tuturnya.

Kompolnas Nilai Pernyataan Ayah Mirna Bisa Menekan Penyidik

JAKARTA - Komisioner Kompolnas, Edi Hasibuan mengimbau ayah Wayan Mirna Salihin, Darmawan Salihin untuk tidak sering tampil di media dan memberikan pernyataan yang berulang-ulang.

Menurut Edi, pernyataan-pernyataan Darmawan dapat memberikan tekanan terhadap penyidikan yang berlangsung di Polda Metro Jaya.

"Kami mengimbau kepada ayah Mirna, Darmawan untuk tidak terlalu vulgar ke media mengungkapkan ini dan itu. Pasti ada efeknya mengganggu penyidikan di Polda," katanya saat diskusi di Kawasan Menteng, Jakarta, Jumat (5/2/2016).

Dirinya juga merasakan keprihatinan yang dalam atas kejadian yang menimpa Wayan Mirna.

Namun, dirinya berharap agar Darmawan tidak memberikan banyak pernyataan ke publik.

Senada dengan Edi, Komisioner Komnas HAM, Siane Indriyani mengatakan pernyataan Darmawan akan menutup kemungkinan adanya tersangka lain yang mungkin saja terlibat dalam kasus Wayan Mirna tersebut.

Pasalnya, membunuh dengan menggunakan racun sianida bukan perkara yang mudah dilakukan siapa saja.

"Sianida itu tidak dapat dibeli sembarang orang, perusahaan saja harus memakai surat resmi dengan hitung gram per gram. Makanya tidak mungkin satu orang atau dua orang, pasti banyak. Kalau terus dilempar pernyataan dari Darmawan, nanti kasus ini tertutup di Jessica saja," kata Siane.

Ada Hubungan Aneh Pertemanan Mirna dan Jessica

JAKARTA - Ayah Mirna, Edi Darmawan Salihin menyebut ada hubungan yang aneh antara Mirna, Hani, Arief (suami Mirna), Sendy (kembaran Mirna) dan Jessica Kumala Wongso .

Jessica berubah jadi sosok menakutkan bagi Mirna, usai menikahi Arief sebulan sebelum kematiannya.

Darmawan menceritakan, selama masa kuliah di Australia semuanya baik-baik saja.

Saat itu Mirna juga sudah berpacaran dengan Arief dan saling mengenal dengan Jessica.

Tapi semenjak Mirna menikah dengan Arif, barulah ada yang berubah dari Jessica.

"Sebel banget itu si Jessica sama Arief," kata Darmawan kepada wartawan, Jumat (5/2/2016).

Makanya Mirna selalu ketakutan saat Jessica mengajaknya bertemu.

Itu pula yang kemudian membuat Mirna selalu mengajak Arief dan suaminya setiap hendak bertemu Jessica.

Terkait hal itu, kata Darmawan, Sendhy dan Arief yang lebih tahu.

Darmawan sendiri belum tahu apa yang sebenarnya terjadi dan baru mau menanyakannya.





sumber : tribun

Nazar Sengaja Samarkan Hartanya

Written By Dre@ming Post on Jumat, 11 Desember 2015 | 08.27

 Nazaruddin hadapi dakwaan pencucian uang. Meski sudah berada di balik jeruji besi, kasus hukum Muhammad Nazaruddin seolah tak pernah habis. Mantan Bendahara Umum Partai Demokrat itu kembali menjalani sidang dakwaan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi pada Kamis (10/12).
JAKARTA - Jaksa Penuntut Umum Komisi Pemberantasan Korupsi membacakan tiga dakwaan: satu dakwaan suap dan dua dakwaan pencucian uang.

Mantan Bendahara Umum Partai Demokrat Muhammad Nazaruddin didakwa mengalihkan harta kekayaannya untuk membeli sejumlah saham, tanah, dan bangunan, serta menampungnya di sejumlah rekening.

Dalam berkas dakwaan terungkap bahwa Nazar menggunakan nama orang lain untuk membuka rekening dan menampung harta kekayaannya itu.

"Harta kekayaan terdakwa yang dengan sengaja ditempatkan ke dalam penyedia jasa keuangan menggunakan rekening atas nama orang lain dan rekening perusahaan di Permai Grup seluruhnya sebesar Rp 50,2 miliar," kata jaksa penuntut umum Kresno Anto Wibowo di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta, Kamis (10/12) dilansir kompas.

Harta kekayaan Nazar diatasnamakan orang lain dengan maksud menyamarkan asal-usul harta kekayaannya karena berasal dari korupsi yang dilakukannya semasa menjadi anggota DPR.

Harta kekayaan Nazar disembunyikan di beberapa rekening atas nama Amin Andoko, Direktur PT Anugrah Nusantara. Selain itu, hartanya juga disimpan di sejumlah rekening anak perusahaan Permai Grup, seperti PT Anugerah Nusantara, PT Mahkota Negara, PT Exartech Technologi Utama, dan rekening joint operation.

Jaksa Kresno Anto Wibowo mengatakan Nazaruddin selaku anggota Dewan Perwakilan Rakyat telah menerima hadiah dari PT Nindya Karya berupa uang tunai sekitar Rp 17 miliar dan dari PT Duta Graha Indah (DGI) berupa 19 lembar cek yang seluruhnya bernilai sekitar Rp 23 miliar.

"Pemberian tersebut merupakan imbalan karena terdakwa telah mengupayakan PT DGI mendapatkan beberapa proyek pemerintah dan mengupayakan PT Nindya Karya untuk mendapatkan proyek pembangunan Rating School Aceh serta Univesitas Brawijaya," katanya dilansir tempo.

Menurut Jaksa, perbuatan Nazaruddin melanggar tiga ketentuan yang berlaku. Pertama, Pasal 5 angka 4 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme. Kedua, Pasal 208 ayat 3 Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2009 tentang MPR, DPR, dan DPRD. Ketiga, Pasal 281 ayat 3 Keputusan DPR RI Nomor: 01/DPR RI/I/2009-2010 tanggal 29 September 2009 tentang Peraturan Tata Tertib DPR RI.

Atas perbuatannya, Nazaruddin diancam pidana sesuai dengan Pasal 12 huruf b atau subsider Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 65 ayat 1 KUHP.

Selama dakwaan dibacakan, Nazaruddin menunduk. Hanya jarinya yang bergerak memutar bandul tasbih. Seusai dakwaan, Nazaruddin mengatakan tidak akan mengajukan eksepsi. Ia langsung ke luar ruangan tanpa mengeluarkan nyanyian, tidak seperti sidang-sidang sebelumnya.









sumber : NusaBali

Temuan Pendanaan Terorisme di Indonesia Sebesar Rp 7 Miliar

Written By Dre@ming Post on Minggu, 29 November 2015 | 15.50

Petugas dari satuan Brigadir Mobil (Brimob) Polda Bali dan TNI AU bersama pecalang Desa Adat Tuban terlibat dalam operasi gabungan untuk mengantisipasi teroris di Bandara I Gusti Ngurah Rai, Bali, Sabtu (28/11/2015). Wisatawan asing terlihat kaget melihat tim gabungan ini.
Adik Kandung Amrozi Bongkar Jalur Logistik Terorisme, Wilayah Pesisir Jadi Favorit

BANGKA - Ali Fauzi, mantan teroris, yang juga adik kandung pelaku bom Bali, Amrozi dan Imam Samudera, menjadi pembicara dalam dialog pemuda menangkal radikalisme di Provinsi Bangka Belitung (Babel) yang digelar oleh FKPT Babel di Grand Vella Pangkalpinang, Sabtu (28/11/2015).

Di hadapan para pemuda ia bercerita, dulu badannya kurus karena tidak tenang, pergi ke sana ke mari dibuntuti, masuk ke Indonesia takut ditangkap.

“Beda dengan sekarang, saya gemuk karena sudah tenang, saya fokus sama keluarga dan aktif di masyarakat," ungkap Ali.

Diakuinya, saat bergabung dengan kelompok teroris, dari segi finansial sangat mapan.

"Tahun 2000, tabungan di rekening saya ada Rp 2 miliar, saya bebas gunakan untuk apa saja tanpa harus bikin laporan pertanggungjawaban. Kalau terima dolar serinya berurutan, tapi saya bersyukur kepada Allah, saya diberi petunjuk ke jalan yang benar," ungkap aktifis Google Ideas SAVE ini.

Wilayah pesisir ternyata menjadi sasaran empuk para teroris untuk bergerak melancarkan aksinya.

Di antaranya adalah Bangka Belitung.

Menurut Ali, Babel masuk dalam mapping mereka.

"Jalur pesisir dimanfaatkan untuk keluar masuk logistik. Babel, Tanjungpinang, Riau dan Batam tidak asing lagi bagi jaringan teroris, terutama kelompok Malaysia," beber Ali.

Diakuinya, kelengahan aparat dan kurangnya personil dimanfaatkan oleh jaringan ini.

"Mereka juga memanfaatkan lintasan TKI," ujar Ali.

Ketika kedua kakaknya, Amrozi dan Imam Samudera dieksekusi mati, Ali Fauzi mengaku sedih.

Namun, kata dia, keluarga memahami konsekuensi yang harus diterima tersebut.

"Sebagai saudara jelas sedih. Saya yang memandikan dan mengkafani kakak saya. Saya juga yang membersihkan luka tembakan peluru di tubuhnya," beber Ali.

Jadi, kata Ali, salah besar jika ada orang yang meragukan eksekusi mati terhadap Amrozi Cs.

Ali Fauzi berpesan agar mewaspadai gerakan radikalisme dalam berbagai wujud.

Ada Temuan Pendanaan Terorisme di Indonesia Sebesar Rp 7 Miliar Dari Australia

BANGKA - Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) menemukan adanya aliran dana senilai Rp 7 miliar dari Australia untuk pendanaan terorisme di Indonesia.

Sebagai tindak lanjut, lembaga intelijen keuangan ini berkoordinasi dengan Densus 88.

"PPATK dalam hal ini juga bekerjasama dengan Densus 88 untuk membuka jaringan di Indonesia yang dapat ditengarai dari adanya hubungan transaksi keuangan antara satu dengan lainnya dan terlacaknya hubungan transaksi keuangan dengan pihak‑pihak yang diduga merupakan jaringan di luar negeri, di Australia," kata Wakil Kepala PPATK, Agus Santoso, Sabtu (28/11/2015).

"Ternyata berdasarkan hasil kajian bersama ini kita bisa membongkar jaringannya, di Australia seperti apa, di Indonesia seperti apa," kata Agus.

Koordinasi itu termasuk membawa data transaksi keuangan ke Densus 88.

Oleh Detasemen Khusus Antiteror itu, kata Agus, data akan diverifikasi lebih lanjut.

Densus 88 sudah mengantongi nama‑nama terduga teroris maupun peta kekuatannya.

Data dari PPATK bisa menambah database Densus.

"Tentu Densus 88 perlu melakukan verifikasi terhadap temuan ini dan bisa bekerja sama dengan otoritas di Australia. Dengan temuan ini jelas, negara‑negara tidak akan bekerja sendirian tetapi harus membangun kerja sama yang lebih intens," ujar Agus.

Agus menambahkan, PPATK menjadi salah satu pihak yang vokal dalam menyuarakan agar lembaga intelijen keuangan antarnegara melakukan koordinasi satu sama lain.

Dengan begitu, pelaku terorisme akan lebih mudah untuk diungkap.

"PPATK mendorong terjalinnya kerja sama regional negara‑negara yang berbatasan seperti Filipina, Malaysia, Singapura, Thailand dan Australia. Inisiatif ini sudah disampaikan pada acara CFT Summit di Sidney pada 15‑16 November lalu," ujarnya.

"Antara lain dengan membangun pertukaran informasi secara spontak yang lebih aktif dan pelatihan analisis bersama dan membangun regional risk assesment bersama," Agus menambahkan.

Pengamat Intelijen, Ansyad Mbai, meminta aparat kepolisian tidak memandang sebelah mata ancaman dari mereka-mereka yang diduga sebagai teroris.

Termasuk jaringan Santoso yang beberapa waktu lalu mengancam melalui video di media sosial, akan membom Polda Metro Jaya.

Dia menilai, teroris yang sudah lama bersarang di Poso, itu berbahaya.

Sebab, kelompok yang dikendalikan pria itu terintegrasi dengan jaringan teroris lainnya, seperti The Islamic State of Iraq and Syria (ISIS).

"Teroris (Poso, Red) ada kaitan seperti Suriah dan Irak. Mereka memiliki kekuatan yang sama. Teroris di sana berkaitan dengan teroris di Irak," tutur mantan kepala Badan Nasional Penagulangan Terorisme (BNPT) itu.

Atas berbagai ancaman yang terjadi di Indonesia, Mbai mengharapkan bangsa Indonesia yang meliputi penanganan terorisme bisa mengatasi permasalahan tersebut.

Secara khusus, dia meminta kepada pihak berwajib supaya mengawasi 145 warga negara Indon




sumber : tribun

Untuk Pencitraan Jero Wacik, Pemred Indopos Terima Rp 2 Miliar

Written By Dre@ming Post on Selasa, 24 November 2015 | 05.03

Mantan Menteri ESDM, Jero Wacik (tengah), mendengarkan keterangan saksi pada sidang lanjutan dirinya di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Senin (19/10/2015). Sidang lanjutan terdakwa kasus korupsi penyelewengan dana operasional menteri di Kemenbudpar dan Kementerian ESDM itu beragendakan mendengarkan keterangan saksi yang dihadirkan Jaksa Penuntut Umum.
JAKARTA - Pemimpin Redaksi Indopos M Noer Sardono alias Don Kardono dihadirkan sebagai saksi dalam sidang dugaan pemerasan di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral dengan terdakwa mantan Menteri ESDM, Jero Wacik.

Dalam kesaksiannya, Don mengakui adanya kontrak antara PT Indopos dan Kementerian ESDM untuk pencitraan.

"Kami diminta Waryono Karno (mantan Sekjen KESDM) membantu pencitraan atau mengemas berita positif tentang Jero Wacik," ujar Don di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta, Senin (23/11/2015).

Untuk pencitraan politisi asal Bali itu, Don menyebut pemberitaan di Indopos sebagai "smart reporting" atau dengan maksud berita-berita positif Kementerian ESDM.

Perjanjian diteken pada 19 Januari 2012 untuk waktu satu tahun. Nilai kontrak yang disepakati sebesar Rp 3 miliar.

Namun, setelah tiga bulan berjalan, perjanjian mereka tidak berjalan mulus. Uang yang dibayarkan Kementerian ESDM juga kurang, baru sebesar Rp 2 miliar.

Saat itu, kata Don, dia mencoba menghubungi Waryono, tetapi tidak ada tanggapan.

"Kami dalam ketidakpastian. Janjinya setahun, tetapi dalam tiga bulan sudah putus," kata Don.

Tak dianggarkan

Don pun enggan meminta kejelasan lebih lanjut karena dia mengakui bahwa kontrak dengan Kementerian ESDM bukan kontrak mengikat.

Terlebih lagi, kata Don, Waryono sejak awal menyatakan bahwa biaya pencitraan itu tidak dianggarkan oleh negara atau, mengutip istilah Waryono, disebut dengan "kita-kita saja".

Transaksi juga dilakukan secara tunai, bukan ditransfer ke rekening Don.

"Makanya saya tidak terlalu mikir detail karena ini bukan dana dari negara. Itu bisnis. Kami punya program, beliau butuh program itu," kata Don.

Saat itu, Don tidak mempermasalahkan perjanjian mereka yang terputus di tengah jalan. Don menyimpulkan bahwa bisnis di antara mereka sudah berakhir.

Namun, Don mengaku terkejut saat namanya disebut dalam kasus dugaan korupsi yang menjerat Jero. Don mengatakan, dirinya tidak mengetahui asal usul uang pencitraan itu.

"Saya tidak berani tanya karena hormati beliau (Waryono). Saya tidak tahu dari mana dananya," kata Don.

Asal biaya pencitraan

Sebelumnya, mantan Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian ESDM Ego Syahrial menyebut, dana yang dibayarkan kepada Don berasal dari hasil imbal jasa rekanan penyedia jasa konsultasi di lingkungan Setjen Kementerian ESDM.

Menurut Ego, biaya pencitraan tidak termasuk dalam anggaran pendapatan dan belanja negara Kementerian ESDM sehingga pembiayaannya harus dicarikan dari sumber lain.

Dalam surat dakwaan, kegiatan pencitraan itu meliputi konsultasi pengembangan isu, perencanaan berita, reportase, pengeditan, sampai penayangan berita positif ESDM di tiga media grup Jawa Pos, yakni Indopos, Rakyat Merdeka, dan Jawa Pos.

Pemberian uang terus dilakukan hingga sekitar akhir Februari atau awal Maret 2012.

Total uang yang diterima Don baru Rp 2,5 miliar. Kekurangan uang Rp 500 juta belum dibayarkan kepada Don karena uang dari rekanan penyedia jasa konsultasi di Setjen ESDM tidak mencukupi.





sumber : tribun

Oknum TNI Tembak Mati Pengendara Motor karena Mobilnya Disenggol, Ini Kronologi

Written By Dre@ming Post on Rabu, 04 November 2015 | 08.38

Marsin Sarmani alias Japra (40) korban penembakan seorang pengendara sepeda motor di Jalan Mayor Oking, Kecamatan Cibinong, Kabupaten Bogor, Selasa (3/11/2015).
CIBINONG - Gara-gara mobil Honda CRV yang ditumpanginya kesenggol motor, oknum TNI berinisla YH menembak mati Marsin Sarmani alias Japra (40) hingga tewas.

Oknum TNI berpangkat Serda tersebut melakukan aksi koboi di Jalan Mayor Oking depan SPBU Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Selasa (3/11/2015) petang sekitar pukul 16.30 WIB.

Korban tewas dengan luka tembakan dibagian pelipis.

Berikut kronologis kejadian penembakan.

1. Serda YH, berangkat dari arah Cibinong menuju ke Sentul menggunakan mobil Honda CRV warna silver bersama teman wanitanya.

2. Tepat di depan putaran PLN, Jalan Mayor Oking, tiba-tiba datang motor dari sebelah kiri yang langsung belok ke kanan dan diklakson oleh YH.

3. Serda YH tidak suka dengan cara korban yang mengendarai motor secara zig-zag.

4. Sampai di depan SPBU Ciriung, pelaku dan korban terlibat adu mulut.

5. Kemudian Serda YH mengeluarkan senjata api jenis FN dan meletus mengenai pelipis korban.

6. Korban langsung jatuh dan meninggal dunia di lokasi

7. Serda YH langsung naik mobil dan berencana menyerahkan diri ke Denpom

8. Teman-teman korban berhasil memberhentikan mobil pelaku di depan Pos B9.

9. Serda YH kemudian diamankan di Pos B9, selanjutnya ke Polsek Citeureup.

10. Pelaku lalu diserahkan ke Denpom TNI di Cibinong.

11. Korban dibawa petugas ke RS Polri Kramatjati, Jakarta Timur untuk dilakukan autopsi.





sumber : tribun

Berkali-kali, Ayah Setubuhi Anak Kandungnya yang Cacat

Written By Dre@ming Post on Senin, 02 November 2015 | 08.08

"Kasus ini pelakunya ayah kandung dan anaknya (korban) cacat fisik," kata Direktur Reserse Kriminal Umum Komisaris Besar Krishna Murti di Jakarta, Minggu (1/11/2015). GBr Ist
JAKARTA - Rusdi mencabuli anaknya yang cacat fisik berulang kali. Aksinya baru ketahuan setelah sang anak mengaku pada neneknya.

"Kasus ini pelakunya ayah kandung dan anaknya (korban) cacat fisik," kata Direktur Reserse Kriminal Umum Komisaris Besar Krishna Murti di Jakarta, Minggu (1/11/2015).

Rusdi mencabuli anaknya dari Februari 2012. Terakhir, aksi pencabulan terhenti pada Juni 2015. Rusdi mengaku mencabuli anaknya sejak ditinggal istri.

"Korban diminta pakai pakaian seksi milik ibu korban. Tersangka memaksa dan mengatakan bahwa korban seperti ibunya," kata Krishna.

Korban terus menolak dan mengatakan bahwa dirinya adalah darah dagingnya. Namun, semakin korban menolak, Rusdi malah mengancam balik.

"Korban tetap menolak dan diancam bahwa keluarga korban akan dibunuh," kata Krishna.

Korban tak bisa berbuat apa-apa. Apalagi kondisi fisiknya yang berkebutuhan khusus dan tak bisa jalan membuat korban pasrah.

"Korban disetubuhi setiap malam kecuali saat haid. Korban mengaku disetubuhi saat diambil nenek korban," kata Krishna.









sumber : tribun

Biadabb!! Beginilah Detik-detik Agus Bunuh Anak Perempuan Dalam Kardus

Written By Dre@ming Post on Minggu, 11 Oktober 2015 | 09.24

Sejumlah petugas kepolisian saat melakukan penggeledahan di rumah Agus, terduga pembunuhan dalam kardus, Jumat (9/10).
JAKARTA – Agus Darmawan alias AD (39), melakukan perbuatan keji saat mencabuli dan membunuh anak perempuan, PNF alias Eneng (9).

Dia diduga berada dalam pengaruh narkotika ketika hal itu terjadi. Peristiwa itu terjadi di depan warung pelaku di Kalideres, Jakarta Barat pada Jumat (2/10/2015).

Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Kombes Pol Krishna Murti, mengatakan pada saat pulang sekolah di SDN 05 Pagi Kalideres, PNF melintas di depan warung pelaku.

Pelaku memanggil korban untuk masuk ke warung.

Pelaku membekap mulut korban menggunakan kaos kaki dan diikat kabel charger handphone. Kemudian, pelaku mengikat kaki dan tangan korban menggunakan kabel charger handphone.

“Pelaku membuka secara paksa baju, rok, dan celana korban. Pelaku melakukan pelecehan seksual di sana,” tutur Krishna di Mapolda Metro Jaya, Sabtu (10/10/2015).

Dalam acara pengumuman ke publik pengungkapan kasus, Krishna memperlihatkan video bagaimana Agus melakukan pelecehan seksual terhadap PNF.

Setelah menelanjangi PNF, Agus, memasukkan jari tengah tangan kiri ke daerah kewanitaan korban sehingga mengakibatkan kemaluan korban berdarah.

Agus mencoba memasukkan alat kelamin ke kemaluan korban, namun tidak berhasil karena sempit.

Agus memilih melakukan ejakulasi dan memasukkan sperma ke kemaluan korban. Namun, dia belum puas sehingga memasukkan kembali jari telunjuk ke anus korban secara berulang-ulang.

Pelaku menggunakan kabel charger handphone untuk menjerat leher korban hingga tewas. Kaki korban dilakban dengan badannya dan mayat korban dibungkus di kardus beserta jilbab berwarna putih milik PNF.

“Agus membuang kardus berisi jasad korban. Jarak dari rumah tersangka dan lokasi pembuangan 7 km. Lalu, dia kembali ke rumah membakar celana dalam, rok, sepatu, tas yang berisi buku dan alat tulis sekolah milik korban,” tambah Krishna.

Jenazah Eneng ditemukan terbungkus di kardus kawasan Kampung Belakang, Jalan Sahabat RT/RW 06/05, Kelurahan Kamal, Kalideres, Jakarta Barat, Jumat (2/10/2015) sekitar pukul 22.30 WIB.






sumber : tribun

Dalam Angkot Supir Perkosa Gadis 12 Tahun

Written By Dre@ming Post on Selasa, 29 September 2015 | 21.38

BB, sopir angkot jurusan Kudamati ini, ditangkap polisi setelah dia dilaporkan salah satu akstivis LSM Lembaga Perlindungan Perempuan dan Anak Ambon usai melakukan aksinya itu, Senin (28/9/2015), di kawasan Amahusu Kecamatan Nusaniwe.Gbr Ist
AMBON - BB (20), seorang sopir angkutan kota, ditangkap polisi setelah diduga memperkosa NP, seorang anak perempuan yang baru berusia 12 tahun, di dalam angkot.

BB, sopir angkot jurusan Kudamati ini, ditangkap polisi setelah dia dilaporkan salah satu akstivis LSM Lembaga Perlindungan Perempuan dan Anak Ambon usai melakukan aksinya itu, Senin (28/9/2015), di kawasan Amahusu Kecamatan Nusaniwe.

Berdasarkan pantauan di Kantor Polres Pulau Ambon, Selasa (29/9/2015), hingga kini BB masih terus menjalani pemeriksaan di ruang penyidik. Dia belum ditetapkan menjadi tersangka dalam kasus itu.

“Sopirnya masih menjalani pemeriksaan statusnya belum ditetapkan menjadi tersangka,” kata Kasubag Humas Polres Pulau Ambon, Iptu Meity Jacobus, Selasa siang.

Meity menjelaskan, berdasarkan hasil keterangan sementara insiden pemerkosaan anak di bawah umur itu terjadi saat pelaku bersama korban bepergian dengan mobil angkot ke kawasan Amahusu.

Saat melintas di kawasan itu, BB kemudian menghentikan angkotnya dengan cara mematikan mesin lalu memperkosa korbannya.

Setelah itu, pelaku mengantar korban kembali dan menaruh anak gadis itu di kawasan Tugu Gong Perdamaian Dunia di bilangan AY Patty.

”Korban ini sudah tidak sekolah lagi,” kata dia.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, kejadian ini terungkap setelah korban menceritakan insiden yang dialaminya itu kepada teman-temannya. Kemudian informasi itu sampai ke LSM Perlindungan Perempuan dan Anak dan langsung dilaporkan ke polisi.

Menurut Meity, jika dalam pemeriksaan penyisik pelaku terbukti bersalah, maka pelaku akan dijerat dengan pasal 81 undang-undang nomor 35 tahun 2014 tentang perlindungan anak atau pasal 287 dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara.









Ungasan.com___________________
sumber : tribun

Rawan Konflik Astika Tewas Tanpa Kepala

Written By Dre@ming Post on Rabu, 16 September 2015 | 08.31

Senin, sekitar pukul 13.00 Wita, mereka dikejutkan dengan kedatangan lima orang tak dikenal berpenutup kepala.Mereka membawa senjata laras panjang, pistol dan kapak. Kedua orangtua dari mereka menyeret Kantri menjauh dari pondoknya.Sedangkan tiga orang lain yang bersenjata mendatangi Astika.Selang beberapa menit kemudian, tiga orang yang sebelumnya menemui Astika mencuci tangan dan kapak yang telah berlumuran darah. Gbr Ist
SINGARAJA – I Nyoman Astika (60), transmigran asal Buleleng, Bali yang tewas diserang lima orang tak dikenal Minggu (13/9/2015) lalu diduga karena kebunnya yang ada di pegunungan Baturiti, Kecamatan Sausu, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah itu merupakan daerah rawan konflik.

Menantu Astika, I Nyoman Adiana menuturkan, Astika sempat bercerita kalau daerah yang ditinggalinya merupakan daerah rawan konflik.

Termasuk kebunnya di pegunungan Baturiti yang dijadikan jalur keluar masuk kelompok bersenjata.

“Pernah juga dia katanya pernah mengetahui ada seorang dari kelompok itu yang bersembunyi di kebunnya. Tapi dia terakhir bilang tidak merasa kawathir dan masih betah tinggal di sana, tidak ada keinginan untuk pulang dan menetap di Buleleng,” tuturnya Selasa (15/8/2015).

Namun keadaan di luar kendali Astika. Ia tewas mengenaskan setelah disatroni lima orang berpenutup kepala yang datang membawa senjata laras panjang, pistol dan kapak.

Sebelumnya, I Nyoman Adiana menuturkan, ia mendapatkan kabar tewasnya mertuanya itu dari keluarganya di Sulawesi Tengah pada Senin (14/9/2015) melalui telepon seluler.

Dari penuturan keluarganya itu, Astika ditemukan tewas sudah tanpa kepala.

Dari yang Adiana ketahui, ketika itu kedua mertuanya, Astika dan Ni Made Kantri (65) sedang sembahyang tilem di pondoknya yang berada di kebun cengkeh, cokelat dan durian di pegunungan yang berjarak 10 kilometer (km) dari perkampungan transmigran Bali di Desa Gitgit Sari, Kecamatan Toili, Kabupaten Banggai.

Senin, sekitar pukul 13.00 Wita, mereka dikejutkan dengan kedatangan lima orang tak dikenal berpenutup kepala.

Mereka membawa senjata laras panjang, pistol dan kapak. Kedua orangtua dari mereka menyeret Kantri menjauh dari pondoknya.

Sedangkan tiga orang lain yang bersenjata mendatangi Astika.

Selang beberapa menit kemudian, tiga orang yang sebelumnya menemui Astika mencuci tangan dan kapak yang telah berlumuran darah.

Mereka kemudian meninggalkan nenek ini bersama mayat Astika yang sudah dalam kondisi tanpa kepala.

Kantri memberanikan diri turun ke rumahnya dan ia menceritakan ke tetangga-tetangganya dan melaporkan ke aparat kepolisan dan TNI.

Mayat Astika lantas dibawa ke RSUD Parigi Moutong dan hari ini, Selasa (15/9/2015), baru akan dikuburkan.

“Rencana Selasa akan dikubur di Sulawesi sana. Tapi tidak diupakarai secara Hindu karena kepalanya masih belum ditemukan. Hanya dikubur biasa saja. Nanti kalau kepalanya sudah ditemukan baru diupakarai,” katanya.

Astika terakhir kali pulang kampung ke Buleleng tiga tahun lalu ketika ada upakara ngaben seorang keluarganya.

Sebelumnya, diketahui ada dua orang di Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah yang ditemukan tewas dengan kepala terpenggal.

Korban yaitu I Nyoman Astika dan Simon (55), warga Desa Tolai Barat, Sulawesi Tengah.












sumber : tribun

Kelamin Mayat Pria Ini Ereksi Saat Ditemukan di Pasar

Written By Dre@ming Post on Selasa, 08 September 2015 | 08.10

"Bau busuk seperti bau bangkai tikus sudah tiga hari dirasakan warga Pasar Lakessi. Saat dicari, kita temukan mayat pria dengan kelamin yang masih dalam keadaan berdiri," kata Lareng salah seorang pedagang Pasar Lakessi.Gbr Ist
PAREPARE - Para pedagang di Pasar Lakessi, Parepare, Sulawesi Selatan, digegerkan penemuan jasad seorang pria berumur sekitar 50 tahun yang ditemukan dalam kondisi tanpa busana di lorong lantai 2 Pasar Semi Modern Lakessi, Senin (7/9/2015).

Saat ditemukan para pedagang pasar, kelamin jasad pria itu masih dalam kondisi ereksi.

"Bau busuk seperti bau bangkai tikus sudah tiga hari dirasakan warga Pasar Lakessi. Saat dicari, kita temukan mayat pria dengan kelamin yang masih dalam keadaan berdiri," kata Lareng salah seorang pedagang Pasar Lakessi.

Kepala UPTD Pasar Lakessi Kamaruddin mengatakan, selama ini pihaknya tak mengetahui pria yang sudah tak bernyawa itu sempat tinggal di Blok J252 di lantai 2 Pasar Lakessi. Pihak pengelola pasar kemudian melaporkan penemuan jasad tersebut ke kepolisian.

Setelah mendapatkan laporan, tim kepolisian segera mendatangi Pasar Lakessi. Petugas kemudian membawa mayat pria tak dikenal itu ke RSUD Andi Makassau untuk melakukan autoposi.

"Autopsi dilakukan untuk mengetahui penyebab pasti kematian orang tidak dikenal ini," kata Kapolres Parepare AKBP Alan Gerrit Abast.








Ungasan.com___________________
sumber : tribun

Wanita Ini Ditipu Rp 39 Juta oleh Pria yang Dikenal Lewat Facebook

Written By Dre@ming Post on Minggu, 23 Agustus 2015 | 13.02

Saat itu dirinya tak sadar bila sedang ditipu.Sebaliknya, timbul rasa empati hingga korban rela meminjamkan uangnya yang totalnya mencapai Rp 39 juta dan dikirim ke sejumlah nomor rekening yang diberikan pelaku.Uang itu dikirim melalui transfer dari salah satu bank di Lamongan Gbr Ist
Seorang wanita kembali menjadi korban penipuan via facebook.

Kali ini, korbannya seorang ibu rumah tangga, bernama Novi Puji Lestari (34) warga Gubernur Suryo 7 B/64 RT 02 RW 03 Desa Tlogopojok Gresik.

Korban begitu percaya dengan seorang bernama, Firmansyah Ibnu (35) warga Jalan Jurang 181 RT 05 RW 01 Desa Pasteur kec Sukajadi Kota Bandung yang dikenalnya lewat facebook sejak 17 Mei 2015.

Korban bahkan merelakan uang senilai Rp 39 juta yang ia transfer kepada pelaku.

Meski sebatas teman facebook, Firman sudah berani berhutang uang kepada korban dengan alasan untuk membiaya pengobatan anaknya yang sedang sakit di Bandung.

Kepada Novi, Firman mengaku sedang berada di Balikpapan Kalimantan, 12 Agustus hingga Kamis (20/8/2015).

Selain untuk biaya pengobatan anaknya, ia juga beralasan uang yang dipinjam akan digunakan untuk biaya pulang dari Balikpapan ke Bandung.

Bahkan, pelaku juga membohongi korban jika dirinya sedang dilanda musibah.

Kepada korban, pelaku mengaku tertangkap polisi di Balikpapan, karena kasus narkoba.

Sebagian uang hasil hutang itu dikatakan pelaku kepada korban, akan dipakai untuk mengurus perkara di polisi yang membelitnya.

Selain itu, kepada korban, pelaku juga mengaku butuh uang untuk melunasi pembayaran DP mobil baru yang hendak dibelinya.

Mendengar cerita pelaku, korban pun merasa iba.

Saat itu dirinya tak sadar bila sedang ditipu.

Sebaliknya, timbul rasa empati hingga korban rela meminjamkan uangnya yang totalnya mencapai Rp 39 juta dan dikirim ke sejumlah nomor rekening yang diberikan pelaku.

Uang itu dikirim melalui transfer dari salah satu bank di Lamongan







sumber : tribun

Ini Alasan Indra Nekat Penggal Kepala Ririn

Written By Dre@ming Post on Minggu, 09 Agustus 2015 | 00.28

Indra (27), pelaku pembunuhan sadis Ririn Anisa (18), mengaku telah dijebak korban terkait perannya sebagai pengedar narkoba. Sehingga dia nekat menghabisi nyawa perempuan itu dengan sadis. Kepala korban dipenggal dengan sebilah parang.Gbr Ist
TENGGARONG - Indra (27), pelaku pembunuhan sadis Ririn Anisa (18), mengaku telah dijebak korban terkait perannya sebagai pengedar narkoba. Sehingga dia nekat menghabisi nyawa perempuan itu dengan sadis. Kepala korban dipenggal dengan sebilah parang.

Jumat (7/8/2015) malam, anggota Polres Kukar mencari penggalan kepala yang dibuang tersangka di jurang daerah Loa Duri, Kecamatan Loa Janan.

"Tiga hari setelah ditemukan mayat Ririn di sungai di Kota Bangun, Selasa (4/8/2015) lalu, jajaran Polsek Kota Bangun dan Polres Kukar berhasil mengamankan seorang pelaku. Kami juga berhasil menemukan bagian tubuh korban, berupa kepala yang jaraknya 100 kilometer dari penemuan jasad awal di sungai Kota Bangun," ujar AKBP Handoko, Kapolres Kukar tadi malam di RSUD AM Parikesit Tenggarong.

Pelaku langsung dibawa ke RSUD AM Parikesit untuk menjalani tes darah, tes urine dan kejiwaan.

Handoko menjelaskan, motif dari pelaku sementara karena korban berupaya menjebak pelaku karena profesinya sebagai pengedar narkoba.

"Motif lain diduga pelaku punya hubungan asmara dengan korban, jadi khawatir diketahui istri maka pelaku nekat membunuh korban," tuturnya.

Terkait apakah kasus pembunuhan ini terencana, polisi masih mendalaminya lebih lanjut.

Menurut pengakuan tersangka, pelaku melakukan pembunuhan itu seorang diri.

"Pelaku memenggal kepala korban karena pelaku merasa sakit hati," ujar Handoko.

Pelaku mengajak korban ke lokasi tambang di wilayah Kukar. Di sana, lanjut Handoko, pelaku memenggal kepala korban, lalu membuangnya ke jurang. Sedangkan badan yang lain dibuang di sungai yang jaraknya 2,5 jam dari TKP.

"Korban dibunuh kemudian dimasukkan dalam karung, lalu diangkut mobil ke arah Kota Bangun," jelasnya.

Tersangka ditangkap di rumahnya Desa Belempung Ulak, Kecamatan Barong Tongkok, Kubar, Jumat (7/8/2015) pukul 15.00.

"Jaraknya 7 jam dari TKP penemuan mayat," imbuhnya.

Pelaku dikenakan pasal 338 KUHP dengan ancaman hukuman pidana minimal 5 tahun penjara.

Polisi juga mengamankan sejumlah barang bukti, seperti sebuah parang, handuk yang dipakai membungkus kepala, karung, batu pemberat agar jasad korban tenggelam, kaus merah dan mobil Avanza KT 1286 CF untuk mengangkut jasad korban.









sumber : tribun

Ketahuan Menganiaya Istri Sirinya Seorang Pria Nekat Gorok Lehernya

Written By Dre@ming Post on Senin, 03 Agustus 2015 | 09.01

"Korban dituduh berselingkuh, lalu pelaku malah memukul kepala korban dengan kunci roda mobil dan menyayat tangannya," kata Anwar, Minggu (2/8/2015).Setelah melukai korban, pelaku berinisial BS (53), warga Gombong, Kebumen, tersebut berupaya kabur dari rumah korban. Namun, aksinya diketahui oleh warga di sekitar rumah korban. Gbr Ist
KENDAL -- Seorang pria paruh baya menganiaya istri sirinya di Dukuh Gladaksari RT 02 RW 12, Desa Plantaran, Kecamatan Kaliwungu Selatan, Kabupaten Kendal, Minggu (2/8/2015).

Oleh karena tindakannya diketahui oleh keluarga dan tetangga korban, pelaku berusaha bunuh diri dengan menggunakan pisau dapur.

Menurut tetangga korban, Miftahul Anwar, kehidupan rumah tangga suami-istri tersebut sudah tidak harmonis lagi karena korban tidak pernah dinafkahi pelaku selama empat bulan.

Korban yang berusia 31 tahun sudah minta cerai kepada pelaku, tetapi pelaku tidak mau dan justru menuduh korban berselingkuh.

"Korban dituduh berselingkuh, lalu pelaku malah memukul kepala korban dengan kunci roda mobil dan menyayat tangannya," kata Anwar, Minggu (2/8/2015).

Setelah melukai korban, pelaku berinisial BS (53), warga Gombong, Kebumen, tersebut berupaya kabur dari rumah korban. Namun, aksinya diketahui oleh warga di sekitar rumah korban.

Mereka pun beramai-ramai mengejar pelaku. Merasa terjepit dan tak bisa kabur lagi, pelaku kembali ke rumah korban.

Kali ini ia berusaha bunuh diri dengan cara melukai lehernya sendiri. Ia terluka parah, tetapi warga berhasil menyelamatkannya dan membawanya ke rumah sakit.

Kapolsek Kaliwungu, AKP Satya Adi Nugraha mengatakan, dari keterangan sejumlah saksi, korban yang terluka berteriak minta tolong.

Warga yang mendengar teriakannya langsung mendatangi rumah korban. Saat itulah pelaku mencoba bunuh diri dengan menggunakan pisau dapur.

Saat ini korban dan pelaku masih menjalani perawatan di unit perawatan intensif RSUD Suwondo Kendal.






Dre@ming Post______
sumber : tribun

Uang Palsu yang Mau Diedarkan Wurni Simpan di Celana Dalam

Written By Dre@ming Post on Senin, 13 Juli 2015 | 10.28

Mereka menyimpan uang abal-abal itu di pakaian dalam Wurni. Sebagian diselipkan di BH, sebagian lainnya di celana dalam. Gbr Ist
KENDAL -- Pasangan suami istri, Danuri (59) dan Wurni (62), warga Desa Bandung Gede, Kabupaten Temanggung, mempunyai cara unik dalam menyimpan uang palsu yang mereka edarkan.

Mereka menyimpan uang abal-abal itu di pakaian dalam Wurni. Sebagian diselipkan di BH, sebagian lainnya di celana dalam.

Petugas Polres Temanggung meringkus pasangan suami istri itu karena menyimpan dan mengedarkan uang palsu. Kepada petugas, kedua pelaku mengaku telah mengedarkan uang palsu sejak tujuh bulan lalu. Selain di Temanggung, kata mereka, uang palsu itu mereka edarkan ke Jakarta, Bekasi, dan Sukorejo (Kendal).

"Kami minta bantuan bidan setempat untuk menggeledah pakaian Wurni dan ditemukan upal di BH dan celana dalam yang dipakai tersangka," kata Kasat Reskrim Polres Temanggung, AKP Suharto, Minggu (12/7)

Sebelumnya, aparat Polres Kendal membekuk dua pengedar uang palsu asal Semarang. Keduanya, Asia Bekti (41), warga Wonodri Sendang, dan Kukuh Sugianto (39) warga Tegalsari, keduanya masuk Kecamatan Candisari, Kota Semarang, tertangkap saat bertransaksi di lokalisasi Gambilangu (GBL), Kaliwungu, Kendal.

Dari pengakuan mereka, polisi kemudian menangkap Turia Sesti Susanti (46), warga Desa Bedagas, Kecamatan Pengadegan, Kabupaten Purbalingga, yang diduga menjadi otak peredaran uang palsu. Dari tangan ketiga tersangka, polisi polisi menyita uang palsu pecahan Rp 100 ribu dan Rp 50 ribu, dengan nilai total Rp 36 juta.

Suharto menjelaskan, dari kedua pelaku, polisi menyita uang palsu Rp 26,620 juta, terdiri atas pecahan Rp 20 ribu, Rp50.000, dan Rp100.000.

A mengatakan, penangkapan bermula dari kecurigaan Ngarilah, seorang pedagang daging sapi di Pasar Candiroto, Temanggung. Saat itu, Ngarilah menerima uang Rp 50 ribu dari Wurni yang membeli tiga ons daging sapi seharga Rp 20 ribu.

Ngarilah berusaha mengejar Wurni untuk menukar uang palsu yang diterima, tetapi Wurni bersama suaminya telah meninggalkan pasar mengendarai mobil pick up AA 1923 JY ke arah Sukorejo, Kendal. Ngarilah lantas melapor ke Polsek Candiroto dan selanjutnya dilakukan penghadangan di Polsek Bejen.

Hasil penggeledahan, ujarnya, petugas menemukan upal pecahan Rp 100 ribu, Rp 50 ribu, dan Rp 20 ribu di dalam mobil, bahkan sebagian disimpan di BH dan celana dalam yang dikenakan Wurni.

Suharto mengatakan penggeledahan di rumah tersangka ditemukan upal yang disembunyikan di almari televisi. Total upal yang disita mencapai Rp 26,620 juta, terdiri atas 102 lembar pecahan Rp 100 ribu, 138 lembar pecahan Rp 50 ribu, dan 476 lembar pecahan Rp 20 ribu.

"Kedua tersangka dijerat pasal 36 ayat 3 UU Nomor 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara dan denda Rp 50 miliar," katanya.

Danuri mengaku, mendapat uang palsu dari Andri, warga Kabupaten Semarang. Satu lembar uang asli ditukar tiga lembar uang palsu. Dalam tujuh bulan terakhir telah melakukan tiga kali transaksi uang palsu.

"Rencananya menjelang Lebaran ini, saya ambil upal untuk dibelanjakan membeli baju cucu dan berbagai kebutuhan Lebaran, tetapi keburu ketahuan," katanya.









sumber : tribun

Lihat Nenek Tewas Tergeletak Dibekap Sarung, Cucu Teriak

Written By Dre@ming Post on Minggu, 05 Juli 2015 | 10.21

"Sebelumnya, dia (Lirinda), memanggil Namborunya (Bocaria), namun beberapa kali diteriaki, Namborunya tak kunjung datang. Merasa tak ada jawaban, Lirinda langsung membuka pintu depan. Namun, seketika ia pun terkejut dan panik saat melihat Bocaria tergeletak," ujarnya.Gbr Ist
MEDAN - Suasana Jalan Meranti, Kelurahan Sei Putih Timur II, MedanPetisah dihebohkan dengan tewasnya seorang nenek bernama Bocaria Boru Nainggolan (85) dengan posisi tangan dan mulut diikat kain sarung, Sabtu (4/7/2015) sore.

Selain itu, sekujur wajah perempuan berkulit sawo matang ini terlihat lebam. Tak ada luka serius yang dialaminya, namun, besar dugaan nyawa perempuan itu melayang lantaran dibekap. Tak hanya itu, pintu depan serta gerbang kediaman nenek tersebut tidak rusak.

Seorang warga sekitar yang menolak namanya dipublikasi mengatakan pertama sekali Bocaria Boru Nainggolan ditemukan tewas oleh keponakannya bermana Lirinda (18), siswi kelas III Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Batangkuis, Deliserdang.

"Keponakan nenek itu datang naik becak, katanya mau ambil pakaian yang tertinggal di rumah. Begitu datang dia (Lirinda) menjerit lantaran melihat nenek (Bocaria) sudah tak bernyawa," katanya di lokasi kejadian perkara.

Kediaman Bocaria yang bercat kuning tersebut tidak mengalami kerusakan. Pintu depan, gerbang serta pintu bagian belakang dan kunci rumah dalam keadaan baik. Karena itu, Lirinda sempat heran melihat pagar dan pintu rumah dalam keadaan tidak dikunci.

"Sebelumnya, dia (Lirinda), memanggil Namborunya (Bocaria), namun beberapa kali diteriaki, Namborunya tak kunjung datang. Merasa tak ada jawaban, Lirinda langsung membuka pintu depan. Namun, seketika ia pun terkejut dan panik saat melihat Bocaria tergeletak," ujarnya.

Sementara itu, Kepala Unit Reskrim Polsek Medan Baru Inspektur Polisi Satu (IPTU) Adhi Putranto Utomo mengaku masih mendalami kasus pembunuhan bermotif perampokan tersebut. Penyidik telah turun ke lokasi dan mengumpulkan sejumlah alat bukti.

"Kami masih melakukan pemeriksaan tiga saksi dari pihak keluarga. Jadi memang pintu rumah tak ada yang rusak. Tapi pelakunya belum ada yang mengarah ke keluarga dekat," katanya saat dihubungi.

Dia menjelaskan, tidak banyak barang yang diambil pencuri artinya hanya kehilangan kipas angin. Oleh sebab itu, penyidik masih mendalami motif pembunuhan itu.

"Masih kita selidiki siapa pelaku sebenarnya. Untuk motifnya dugaan awal perampokan, namun tidak menutup kemungkinan ada motif lain," ungkapnya.






sumber : tribun

Total Visitors


 
Support : Dre@ming Media | Dre@ming Post | I Wayan Arjawa, S.T.
Copyright © 2011. Indonesia - All Rights Reserved
Template Created by Excata Published by DLC
Proudly powered by Dre@ming Media